Pengalaman (1) 'Sambil menunggu batuk mereda'
Sms terus saja masuk. Entah apa yang saya pikirkan sehingga enggan membukanya. Yang pasti, Saya sedang ter-patung didepan layar laktop yang sedari tadi menyala. Sudah beberapa album foto yang saya lihat-lihat. Melihat foto dan melihat tanggalnya. Mengingat peristiwanya. Mengenang momennya. Mengkhayal seandainya lebih banyak sisi kehidupan yang sempat dan sempurna kurekam.
Anak
udik. Itu mungkin sematan yang lumayan pantas untuk saya. Menggunakan hand
phone, baru ketika sudah menginjak kelas 3 SMA. Dan semester akhir sekolah baru
HP kamera sempat saya nikmati, itupun dengan daya yang masih VGA. Walaupun
remang, saya sempat memotret beberapa sisi kehidupan yang tidak terbayangkan.
Mengenang dulu, menikmati yang sekarang dan memandang kedepan. Rute yang tidak
selalu stabil untuk sebahagian hidup. Mungkin.
Sambil
menikmati suara merdu syeikh masyari rasyid, sesekali meneguk air putih yang
entah sudah berapa gelas saya habiskan untuk sedikit meringankan batuk yang
sudah seminggu juga belum sembuh. Tidak ada obat yang jitu kali ini. Semuanya
menyerah dengan “preman” yang beroperasi dilokasi kerongkongan yang bernama
batuk. ^_^
Dan
penerbangan kemasa lalupun harus dilanjutkan kembali.
Karena
kali ini terpampang foto ketika masa SMA. Didalamnya seorang teman saya Nampak
tertawa ceria. Walau tidak harus menyebut namanya, setidaknya saya akan
menyebut kebaikannya. Karena dia memang baik. Baik bagi saya dan baik bagi yang
lainya. Kecuali ketika beberapa minggu sebelum lulus dari SMA, dia benar-benar
terprovokasi dengan kata-kata saya.
“kamu gak akan pernah berani menghancurkan
salah satu kaca jendela disekolah ini ! ”. Kata-kata ini terus saya lanjutkan
dengan sedemikian retorika meyakinkan dan menjatuhkan. Akhirnya provokasi saya
mencapai puncak.
“sudahlah !, kamu gak akan mungkin berani..”. dan akhirnya,
tanpa menunggu lagi, teman saya ini langsung memunggut salah satu kaki bangku rusak yang terbuat dari kayu. Dan segera dia menuju kearah jendela.
Dua meter dari jendela, dia melempar dengan cukup kuat dan satu bagian kaca
jendela hancur berkeping-keping.!
“Plok..plok..plok”
saya menepuk tangan dengan tawa lepas dan diapun mengatakan “kubuktikan dik !
aku gak akan pernah takut dengan hal sekecil ini”.
Dari
luar kelas, semua siswa lain berjibun mengerubuni kami. Menanyakan kenapa kaca
pecah cukup besar. Siapa yang melakukan. Dan celakanya, rupanya bukan saya saja
yang menyaksikannya. Tapi ada beberapa orang lain. Seperti biasa, setiap
kejadian mengemparkan, selalu saja ada penegak hukum yang datang. Seorang guru
yang cukup disegani siswa (barangkali tidak untuk saya, karena jujur saya
bahkan pernah hampir berkelahi dengan kepala sekolah hanya gara-gara debat
masalah osis) terlihat berdiri diantara siswa yang lain.
“Siapa
yang melakukan ini.??!!”, tanyanya garang.
“Tanya
saja sama mereka” jawab saya, sambil memberikan kode kepada teman yang
menghancurkan kaca tadi untuk segera pergi jauh-jauh. Tapi teman saya ini
benar-benar tidak salah jika pada cerita dari awal saya katakana baik. Dia tidak
mau pergi. Dia hanya menunduk.
”Siapa.?!”
Hardik sang guru pada salah seorang siswa.
Tanpa
menunggu lagi teman saya langsung menjawab.
“Saya
pak !”
“Kemari
kamu !”
Teman
saya mendatangi guru tersebut.
“prak
!” suara tamparan yang lumayan keras mengenai pipi kiri teman saya.
Dia
menunduk.
Gigi saya beradu. Tangan saya terkepal. Saya menyesal telah
menprovokasi dia.
“kamu
selalu baik, tetapi kenapa sekarang kamu menghancurkan kaca dikelas?” tiba-tiba
sang guru memegang bahunya dan berbicara dengan lembut.
Saya terkejut. “ini ulah saya” batinku.
Teman
saya hanya diam ketika ditanya. Tidak menjawab apapun. Sang guru menarik nafas
dalam-dalam. Sepertinya ada rasa menyesal dalam hati setelah menampar. Dengan
tidak lagi mengatakan apapun, sang guru beranjak pergi. Kerumunan mulai
membubarkan diri. Teman saya memegang pipinya sambil melihat ke arah saya ,
tapi dengan senyum. Saya benar-benar menyesal. Tapi dia masih terseyum.
“Dasar
kamu dik !”
…………….setidaknya
ini yang sempat saya tulis mala mini………………….
Malam,
Sendirian di Musala kecil, prada.
16
Desember 2011
Ketika
batuk mulai “mengantuk”. Mudah-mudahan cepat hilang. ^_^

0 komentar:
Posting Komentar