Advertisements

Jumat, 13 Januari 2012

Pengalaman (1) 'Sambil menunggu batuk mereda'

Sms terus saja masuk. Entah apa yang saya pikirkan sehingga enggan membukanya. Yang pasti, Saya sedang ter-patung didepan layar laktop yang sedari tadi menyala. Sudah beberapa album foto yang saya lihat-lihat. Melihat foto dan melihat tanggalnya. Mengingat peristiwanya. Mengenang momennya. Mengkhayal seandainya lebih banyak sisi kehidupan yang sempat dan sempurna kurekam.
Ilustrasi (google.com)

Anak udik. Itu mungkin sematan yang lumayan pantas untuk saya. Menggunakan hand phone, baru ketika sudah menginjak kelas 3 SMA. Dan semester akhir sekolah baru HP kamera sempat saya nikmati, itupun dengan daya yang masih VGA. Walaupun remang, saya sempat memotret beberapa sisi kehidupan yang tidak terbayangkan. Mengenang dulu, menikmati yang sekarang dan memandang kedepan. Rute yang tidak selalu stabil untuk sebahagian hidup. Mungkin. 

Sambil menikmati suara merdu syeikh masyari rasyid, sesekali meneguk air putih yang entah sudah berapa gelas saya habiskan untuk sedikit meringankan batuk yang sudah seminggu juga belum sembuh. Tidak ada obat yang jitu kali ini. Semuanya menyerah dengan “preman” yang beroperasi dilokasi kerongkongan yang bernama batuk. ^_^

Dan penerbangan kemasa lalupun harus dilanjutkan kembali.

Karena kali ini terpampang foto ketika masa SMA. Didalamnya seorang teman saya Nampak tertawa ceria. Walau tidak harus menyebut namanya, setidaknya saya akan menyebut kebaikannya. Karena dia memang baik. Baik bagi saya dan baik bagi yang lainya. Kecuali ketika beberapa minggu sebelum lulus dari SMA, dia benar-benar terprovokasi dengan kata-kata saya. 

“kamu gak akan pernah berani menghancurkan salah satu kaca jendela disekolah ini ! ”. Kata-kata ini terus saya lanjutkan dengan sedemikian retorika meyakinkan dan menjatuhkan. Akhirnya provokasi saya mencapai puncak.

“sudahlah !, kamu gak akan mungkin berani..”. dan akhirnya, tanpa menunggu lagi, teman saya ini langsung memunggut salah satu kaki bangku rusak yang terbuat dari kayu. Dan segera dia menuju kearah jendela. Dua meter dari jendela, dia melempar dengan cukup kuat dan satu bagian kaca jendela hancur berkeping-keping.!

“Plok..plok..plok” saya menepuk tangan dengan tawa lepas dan diapun mengatakan “kubuktikan dik ! aku gak akan pernah takut dengan hal sekecil ini”. 

Dari luar kelas, semua siswa lain berjibun mengerubuni kami. Menanyakan kenapa kaca pecah cukup besar. Siapa yang melakukan. Dan celakanya, rupanya bukan saya saja yang menyaksikannya. Tapi ada beberapa orang lain. Seperti biasa, setiap kejadian mengemparkan, selalu saja ada penegak hukum yang datang. Seorang guru yang cukup disegani siswa (barangkali tidak untuk saya, karena jujur saya bahkan pernah hampir berkelahi dengan kepala sekolah hanya gara-gara debat masalah osis) terlihat berdiri diantara siswa yang lain.

“Siapa yang melakukan ini.??!!”, tanyanya garang.

“Tanya saja sama mereka” jawab saya, sambil memberikan kode kepada teman yang menghancurkan kaca tadi untuk segera pergi jauh-jauh. Tapi teman saya ini benar-benar tidak salah jika pada cerita dari awal saya katakana baik. Dia tidak mau pergi. Dia hanya menunduk.

”Siapa.?!” Hardik sang guru pada salah seorang siswa.
Tanpa menunggu lagi teman saya langsung menjawab.

“Saya pak !”

“Kemari kamu !” 

Teman saya mendatangi guru tersebut.

“prak !” suara tamparan yang lumayan keras mengenai pipi kiri teman saya.

Dia menunduk. 
Gigi saya beradu. Tangan saya terkepal. Saya menyesal telah menprovokasi dia.

“kamu selalu baik, tetapi kenapa sekarang kamu menghancurkan kaca dikelas?” tiba-tiba sang guru memegang bahunya dan berbicara dengan lembut.

 Saya terkejut. “ini ulah saya” batinku. 

Teman saya hanya diam ketika ditanya. Tidak menjawab apapun. Sang guru menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya ada rasa menyesal dalam hati setelah menampar. Dengan tidak lagi mengatakan apapun, sang guru beranjak pergi. Kerumunan mulai membubarkan diri. Teman saya memegang pipinya sambil melihat ke arah saya , tapi dengan senyum. Saya benar-benar menyesal. Tapi dia masih terseyum.
“Dasar kamu dik !” 

…………….setidaknya ini yang sempat saya tulis mala mini………………….




Malam, Sendirian di Musala kecil, prada.
16 Desember 2011


Ketika batuk mulai “mengantuk”. Mudah-mudahan cepat hilang. ^_^



0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Catatan Pinggir Mahasiswa Kesepian All Right Reserved
Designed by Harman Singh Hira @ Open w3. Published..Blogger Templates