Advertisements

Rabu, 26 Oktober 2011

DEMOKRASI SEBAGAI SEBUAH SISTEM YANG RUSAK


DEMOKRASI SEBAGAI SEBUAH SISTEM YANG RUSAK (bantahan terhadap pernyatan yang mulia, bapak dosen ilmu politik. Prof.DR. Abidin hasyim, MA. P.hd)

Oleh:
Andika muttaqin Ismail

            Mungkin Negara Indonesia salah satu Negara yang sangat tergila-gila dengan system yang diterapkan oleh Negara maju. Bahkan bebarapa pakar-pakar pemerintahan membuat semacam ide-ide untuk mengadopsi secara keseluruhan system yang ada di Negara maju dalam hal ini cukuplah Amerika sebagai contoh. Amerika yang digdaya oleh sebagian orang merupakan sebuah Negara percontohan yang layak dtiru dari system pemerintahannya. Sehingga diharapkan Negara yang meniru akan menjadi Negara yang sama dengan yang ditiru.
            Demokrasi adalah system yang diterapkan oleh mayoritas Negara barat termasuk Amerika serikat. Yang kemudian oleh Negara Indonesia dan Negara lain ditimur juga turut mengekorinya. Bahkan dalam bukunya Miriam Budiarjo (Mariam budiardjo, dasar-dasar ilmu politik.), demokrasi seperti penelitian yang dilakukan oleh UNESCO dalam tahun 1949, “mungkin untuk pertama sekali dalam sejarah “demokrasi” dinyatakan nama yang paling baik dan wajar untuk semua system organisasi politik dan sosial yang dperjuangkan oleh para pendukung-pendukungnya”. Begitulah gambaran beberapa elemen yang menganggab demokrasi sebagai sitem yang paling baik. Kejadian ini persis seperti kejadian Schumpeter (ahli ilmu ekonomi dan sekaligus penggagas sitem perkembangan ekonomi schumpeter) yang terpesona dengan system kapilisme dan menganggab system kapitalismelah yang mampu bertahan lama dan mampu menyejahterakan dunia. Namun sayang, ketika ia semakin jeli meneliti, justru ia menemukan hasil yang yang berbeda, yaitu system kapitalisme adalah system yang suatu saat akan rapuh dan hancur. Mungkin ini adalah penyesalan yang cukup terlambat, karena hampir semua Negara menerapkan system ekonomi kapitalisme yang bersifat menciptakan perbudakan.
            Masih dalam bukunya Miriam budiarjo menjelaskan menjelaskan arti Demokrasi .  bahwasannya demokrasi berasal dari bahasa “Government or rule by the people” atau Dalam arti Indonesia disebut “Rakyat berkuasa”. Menurut sejarah Sebenarnya demokrasi pada mulanya muncul dari yunani. Demokrasi dalam dalam bahasa yunani adalah, Demos yang berarti rakyat, dan kratos/kratein yang berati kekuasaan atau berkuasa. Maka jelas, kelahiran demokrasi juga tidak lepas dari para pemikir-pemikir dikala itu hidup.
Lalu bagaimana sebenarnya system demokrasi atau apa yang melatar belakangi  lahirnya negara demokrasi atau lahirnya system yang bernama demokrasi. Ini semua secara tidak lansung akan terjawab dalam tulisannya David E. Epter dalam bukunya pengantar anlisa politik”. Politik pertama kalinya muncul mula-mula karena menyangkut ikhwal politik yunani kuno. Kelahirannya politik yunani kuno sebenarnya dikarenakan orang yunani tidak lagi mempercayai tuhan sebgai pengatur  kehidupan, kemungkinan disebabkan karena system  yang diterapkan tidak dapat memuaskan masyarakat yunani kuno. Ini secara rasional mengisyaratkan bahwa masyarakat yunani kuno berpendapat bahwa manusia lebih bisa memahami kehidupannya sendiri dari pada tuhan. Oleh sebab itu mereka mencoba mengatur kehidupannya sendiri dengan membuat sebuah sitem baru yang sesuai dengan keinginan mereka dalam arti kata lebih bisa memuaskan mereka. Maka kemudian lahirlah beragai macam bentuk pemikiran yang sejalan dengan ide ini. Dan dengan adanya ide untuk “menyuruh supaya biar manusia sendiri yang mengatur dirinya karena manusia lebih paham tentang dirinya dari pada tuhan”, maka system dari manusia oleh manusia untuk manusiapun dihadirkan oleh para pemikir yunani. Maka kemudian kita menegenal dengan istilah “dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat”. Dan Tuhan boleh ambil cuti dulu dan tidak berhak lagi mengatur manusia. Inilah system yang sekarang dianggab sebagai sitem paling paripurna di Bumi oleh sebagian kalangan. Namun sangat disayangkan, karena manusia yang Bergama lainpun (agaman yang berbeda dangan yunani kuno) ikut tergila-gila dengan sitem ini. Sebagai bukti adalah Indonesia sebagai Negara yang mayoritas berpenduduk muslim turut juga dalam mengekploitasi hak tuhan sebagai pengatur  manusia dan lebih mengambil burung garuda untuk dijadikan sebagai  dasar Negara.
            Semakin dalam mempelajari tentang system yang diterapkan dengan tanpa pernah mempedulikan norma-norma langit, maka akan kita dapatkan sejumlah kesalahan-kesalahan yang akan terus berakar sampai awal motif mendirikan sebuah system. Rasanya manusia terlalu berlebihan menilai kehebatan diri, akhirnya terbuai dengan opsi-opsi rasional tanpa mempedulikan pandangan-pandangan spiritual.
            Dalam hal ini penulis sengaja menfokuskan kajian kepada sebuah system yang diadopsi oleh mayoritas Negara-negara  didunia yaitu system demokrasi. Demokrasi yang kita kenal tidak pernah membedakan antara penipu dan orang jujur, ulama dan orang bejat, karena demokrasi memang tidak pernah melebihkan suara satu atas yang lain. Dimata demokrasi satu suara seorang ulama tidak pernah berbeda dengan satu suara orang bejat jika dalam sebuah voting pendapat atau pemilihan umum misalanya. Jika demokrasi diterap di sebuah negara yang dihuni oleh orang-orang yang hanya melakukan kerusakan, maka tidak ada kesempatan untuk melakukan perbaikan, karena suara orang yang melakukan kekerasan lebih banyak.   
            Seperti yang telah dibahas di atas bahwa system demokrasi sebenarnya meruapakan ekspresi manusia yang selalu beranggapan bahwa Tuhan terlalu mengintervensi hak manusia di  Bumi.  Sehingga  dengan demokrasi akan ada kebebasan yang selalu diinginkan oleh manusia tanpa mempedulikan norma-norma Ilahiyah. Maka hari ini kita bisa menyaksikan bagaimana HAM dan Sistem ekonomi kapitalis sebagai bagian paket dari demokrasi bermain pada level memuaskan pihak-pihak tertentu. Dengan HAM kita akan mendapati Mesin-mesin kondom bertaburan disejumlah daerah di Amerika, karena pemerintah merasa kewalahan dengan penyebaran virus HIV/AIDS yang kian hari semakin banyak memakan korban dinegara yang sistemnya (demokrasi) dianggab paling tepat untuk memakmurkan rakyat, akhirnya dengan dalih HAM, pemerintah atau siapapun tidak bisa menggangu-gugat hak seseorang. Termasuk melakukan hal-hal yang diluar batas etika kemanusiaan. Ini hanya bagian kecil dari pada efek HAM. Dan yang paling mengejutkan adalah mulai berpengaruhnya Embel-embel HAM di Negara tercinta Indonesia. Baru-baru ini kasus tentang pencemaran nama baik atau pembatasan berekspresi yang dilarang oleh sejumlah kalangan karena akan berefek kepada Degradasi moral bangsa, namun lagi-lagi dibela dengan dali HAM.
Pada sisi lain demokrsi adalah kecacatan yang tidak terampunkan. Selain melahirkan system perbudakan lewat jalur kapitalisme, kekuatan politik juga tidak pernah akan memihak pada kebaikan dan orang-orang yang akan melakukan perbaikan.
Pengaruh kapitalisme tentu akan melahirkan rakyat miskin dan Negara miskin yang secara otomatis akan menjadi budak Negara kaya. Walaupun dalam hal perpolitikan penentuan kebijakan Negara juga akan dipengruhi oleh Negara maju dan orang-orang kaya. Istilah membeli suara dari orang miskin dengan cara subsidi mungkin bisa menjadi contoh kecil dari contoh-contoh lainnya. Dan kemenangan president tahun 2009 s/d  2014 nanti juga tidak lepas dari pengaruh luar (asing) yang mempengaruhi kebijakan ekonomi. Pemberian pinjaman oleh IMF kepada Indonesia yang mendongkrak pamor SBY untuk menang juga merupakan konspirasi yang sangat jelas terlihat.
            Indonesia memang tejajah sejak dulu. Penjajahan ekonomi yang terparah mungkin melalui IMF dan Word Bank. Pengamat kebijakan public, Ichsanuddin Noorsy dalam sebuah rubrik wawancara dengan Majalah Sabili mejelaskan tentang dampak dari KMB (konferensi meja bundar) 27 Desember 1949, dibelanda , Negara-negara barat (inggris, AS, dan belanda) sudah memaksa para pemimpin Indonesia yang berunding, Indonesia harus masuk IMF dan Word Bank sebagai dana utama pembangunan (Sabili, “Semua Capres Neoliberal” edisi 18 juni 2009). bahkan sebuah riset yang dilakukan membuktikan Indonesia harus membayar hutang pada Belanda sebanyak 4,3 Uero. Ini sebenarnya merupakan hal yang sangat aneh, belanda yang menjajah dan membuat kerusakan, tapi Indonesia yang harus bayar. Jadi, Negara-negara barat sebenarnya ingin melakukan penjajahan terhadap Indonesia dengan perangkat IMF dan Word Bank jauh hari sejak Indonesia sebelum merdeka.
            Maka jelaslah semua konspirasi yang berkedok Sistem demokrasi yang berpaketkan kapitalisme. Jika dilihat lebih lanjut, kita tentunya akan lebih paham dengan sejumlah konspirasi perbudakan yang terjadi di dunia.
            Lebih jelas, mari kita simak kata-kata dua orang berpengaruh ini : Melvin Sicter dalam buku Ahmat Riznanto pernah mengatakan “Dengan menguasai PBB, lembaga keuangan dan Moneter, para milyuner, komunis, dan ilmuan, mereka bersatu padu untuk membuktikan cita-citanya dalam membangun konglomerasi manusia yang Berjaya (satu dunia baru) melalui konspirasi yang canggih”.  Dan juga kata-kata Prof.J.S. Malan “Cita-cita era reformasi pembaharuan hanya dapat diwujudkan bila dogma-dogma Agama konserfatif sudah dapat dilumpuhkan (Ahmad rizyanto “mereka menodai islam” hal,07).
            Mungkin kata-kata dua orang tersebut bisa menjadi ukuran kepahaman kita terhadap penerapan system, pengaruh system dan pengadopsian system yang diterapkan oleh barat kepada Negara-negara yang yang mempunyai orientasi yang berbeda.
            Dari segi kerugian demokras tidak tanggung-tangung, sehingga ada ungkapan yang menyatakan “Mahalnya Demokrasi”. Belum lagi mahal dari segi Agama, dari segi financial saja sudah cukup merugikan.
            Di Negara Indonesia saja, Berdasarkan data Mendagri (Kompas edisi 5 Maret 2009), bahwa dalam pemilu 2009 terdapat 512.188 TPS. Itu berarti membutuhkan anggota KPPS sebanyak 3.073.128 orang (kalau dihitung rata-rata 6 orang per TPS, karena ada yang 7 orang). Dan memerlukan 1.024.376 anggota satuan perlindungan masyarakat (Linmas), dan sekian ribu anggota PPS, PPK, KPUD, kabupaten dan propinsi serta Panwas dll. Dari sini saja dapat dibayangkan berapa besar dan sangat mahalnya pesta demokrasi itu. Apa lagi ditambah biaya kompanye. Belum lagi bila terjadi pemilu putaran kedua (seperti Pilgub Jatim 2008 atau Pilpres 2004).
            Ketua KPU, Abdul Hafizd, menyebutkan bahwa total anggaran KPU untuk melaksanakan pemilu2009 berjumlah 47,9 Triliun. Dana tersebut digunakan pada tahun 2008 untuk kebutuha KPU sebesar Rp.18,6 Triliun dan pada proses pemilu 2009 dinggarkan menghabiskan dana Rp.29,3 Triliun. Jauh membengkak dibandingkan dengan Dana pemilu tahun 2004 yang hanya menghabiskan dana sebanyak 3,5 triliun untuk semua pemilihan DPR, DPRD,DPRD II dan Pilpres. Dana tersebut belum lagi yang dikeluarkan oleh partai dan individu calon anggota dewan atau kepala daerah atau presiden. Satu calon anggota anggota DPR RI akan mengeluarkan dana ratusan bahkan Milyaran rupiah. Hitung saja berapa dana yang terkumpul, dari 11.219 calon anggota DPR RI sebelum terpilih, belum lagi termasuk calon DPR tingkat I dan II. Jika masing-masing orang rata-rata menghabiskan dana Rp.100 juta (tentu jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan pengeluaran dana calon anggota  DPR RI sebenarnya), maka terkumpul dana sebesar 11.219 x Rp. 100 juta = 1.121.900.000.000,- (satu triliun seratus dua puluh satu milyar Sembilan ratus juta rupiah).
Ini sebenarnya masih sedikit, belum lagi pemilihan Kepala daerah, calon DPR dari 450 propinsi kabupaten / kota. Dana dari pendukung setiap calon atau calon tidak didaftarkan. Keseluruhan dana yang dihabiskan (belum termasuk dana pemilihan-pemilihan kepdes dan lain-lainya). semua jumlahnya sebesar 164.708.500.000.000,- (seratus enam puluh empat triliun tujuh ratus delapan miliar lima ratus juta rupiah), . Jumlah yan sangat fantastis !!, (Kompas edisi 5 Maret 2009).

            Lalu bagaimana dengan Aceh? Daerah yang sedang dihangat-hangatkan dengan Parlok?, kita pasti bisa membayangkan berapa banyak dana yang akan terhambur-hamburkan dalam setiap pesta demokrasi. Untuk pertama kali saja sudah muncul enam partai yang bersaing.
            Inilah demokrasi yang diagung-agungkan. Bayangkan jika dan untuk pesta demokrasi itu di alihkan untuk mengentaskan kemiskinan. Pasti kemiskinan di negeri akan terminimalisir. Lalu apakah kita akan tetap percaya, bahwa demokrasi sebuah system yang bagus untuk diterapkan??.
Wallahu`alam bissawab…
  

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Catatan Pinggir Mahasiswa Kesepian All Right Reserved
Designed by Harman Singh Hira @ Open w3. Published..Blogger Templates