DEMOKRASI SEBAGAI SEBUAH SISTEM YANG RUSAK
DEMOKRASI SEBAGAI SEBUAH SISTEM
YANG RUSAK (bantahan terhadap pernyatan yang mulia, bapak dosen ilmu politik.
Prof.DR. Abidin hasyim, MA. P.hd)
Oleh:
Andika muttaqin Ismail
Mungkin
Negara Indonesia salah satu Negara yang sangat tergila-gila dengan system yang
diterapkan oleh Negara maju. Bahkan bebarapa pakar-pakar pemerintahan membuat semacam
ide-ide untuk mengadopsi secara keseluruhan system yang ada di Negara maju
dalam hal ini cukuplah Amerika sebagai contoh. Amerika yang digdaya oleh
sebagian orang merupakan sebuah Negara percontohan yang layak dtiru dari system
pemerintahannya. Sehingga diharapkan Negara yang meniru akan menjadi Negara
yang sama dengan yang ditiru.
Demokrasi
adalah system yang diterapkan oleh mayoritas Negara barat termasuk Amerika
serikat. Yang kemudian oleh Negara Indonesia dan Negara lain ditimur juga turut
mengekorinya. Bahkan dalam bukunya Miriam Budiarjo (Mariam budiardjo, dasar-dasar ilmu politik.),
demokrasi seperti penelitian yang dilakukan oleh UNESCO dalam tahun 1949,
“mungkin untuk pertama sekali dalam sejarah “demokrasi” dinyatakan nama yang
paling baik dan wajar untuk semua system organisasi politik dan sosial yang
dperjuangkan oleh para pendukung-pendukungnya”. Begitulah gambaran beberapa
elemen yang menganggab demokrasi sebagai sitem yang paling baik. Kejadian ini
persis seperti kejadian Schumpeter (ahli ilmu ekonomi dan sekaligus penggagas sitem
perkembangan ekonomi schumpeter) yang terpesona dengan system kapilisme dan
menganggab system kapitalismelah yang mampu bertahan lama dan mampu
menyejahterakan dunia. Namun sayang, ketika ia semakin jeli meneliti, justru ia
menemukan hasil yang yang berbeda, yaitu system kapitalisme adalah system yang
suatu saat akan rapuh dan hancur. Mungkin ini adalah penyesalan yang cukup
terlambat, karena hampir semua Negara menerapkan system ekonomi kapitalisme
yang bersifat menciptakan perbudakan.
Masih
dalam bukunya Miriam budiarjo menjelaskan menjelaskan arti Demokrasi . bahwasannya demokrasi berasal dari bahasa “Government or rule by the people” atau
Dalam arti Indonesia disebut “Rakyat
berkuasa”. Menurut sejarah Sebenarnya demokrasi pada mulanya muncul dari yunani.
Demokrasi dalam dalam bahasa yunani adalah, Demos yang berarti rakyat, dan
kratos/kratein yang berati kekuasaan atau berkuasa. Maka jelas, kelahiran
demokrasi juga tidak lepas dari para pemikir-pemikir dikala itu hidup.
Lalu bagaimana sebenarnya system
demokrasi atau apa yang melatar belakangi
lahirnya negara demokrasi atau lahirnya system yang bernama demokrasi.
Ini semua secara tidak lansung akan terjawab dalam tulisannya David E. Epter
dalam bukunya “pengantar anlisa
politik”.
Politik pertama kalinya muncul mula-mula karena menyangkut ikhwal politik
yunani kuno. Kelahirannya politik yunani kuno sebenarnya dikarenakan orang
yunani tidak lagi mempercayai tuhan sebgai pengatur kehidupan, kemungkinan disebabkan karena system
yang diterapkan tidak dapat memuaskan masyarakat
yunani kuno. Ini secara rasional mengisyaratkan bahwa masyarakat yunani kuno
berpendapat bahwa manusia lebih bisa memahami kehidupannya sendiri dari pada
tuhan. Oleh sebab itu mereka mencoba mengatur kehidupannya sendiri dengan
membuat sebuah sitem baru yang sesuai dengan keinginan mereka dalam arti kata
lebih bisa memuaskan mereka. Maka kemudian lahirlah beragai macam bentuk
pemikiran yang sejalan dengan ide ini. Dan dengan adanya ide untuk “menyuruh supaya biar manusia sendiri yang
mengatur dirinya karena manusia lebih paham tentang dirinya dari pada tuhan”,
maka system dari manusia oleh manusia untuk manusiapun dihadirkan oleh para
pemikir yunani. Maka kemudian kita menegenal dengan istilah “dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat”.
Dan Tuhan boleh ambil cuti dulu dan tidak berhak lagi mengatur manusia. Inilah
system yang sekarang dianggab sebagai sitem paling paripurna di Bumi oleh
sebagian kalangan. Namun sangat disayangkan, karena manusia yang Bergama
lainpun (agaman yang berbeda dangan yunani kuno) ikut tergila-gila dengan sitem
ini. Sebagai bukti adalah Indonesia sebagai Negara yang mayoritas berpenduduk
muslim turut juga dalam mengekploitasi hak tuhan sebagai pengatur manusia dan lebih mengambil burung garuda untuk
dijadikan sebagai dasar Negara.
Semakin
dalam mempelajari tentang system yang diterapkan dengan tanpa pernah
mempedulikan norma-norma langit, maka akan kita dapatkan sejumlah
kesalahan-kesalahan yang akan terus berakar sampai awal motif mendirikan sebuah
system. Rasanya manusia terlalu berlebihan menilai kehebatan diri, akhirnya
terbuai dengan opsi-opsi rasional tanpa mempedulikan pandangan-pandangan
spiritual.
Dalam
hal ini penulis sengaja menfokuskan kajian kepada sebuah system yang diadopsi
oleh mayoritas Negara-negara didunia
yaitu system demokrasi. Demokrasi yang kita kenal tidak pernah membedakan
antara penipu dan orang jujur, ulama dan orang bejat, karena demokrasi memang
tidak pernah melebihkan suara satu atas yang lain. Dimata demokrasi satu suara
seorang ulama tidak pernah berbeda dengan satu suara orang bejat jika dalam
sebuah voting pendapat atau pemilihan umum misalanya. Jika demokrasi diterap di
sebuah negara yang dihuni oleh orang-orang yang hanya melakukan kerusakan, maka
tidak ada kesempatan untuk melakukan perbaikan, karena suara orang yang
melakukan kekerasan lebih banyak.
Seperti
yang telah dibahas di atas bahwa system demokrasi sebenarnya meruapakan
ekspresi manusia yang selalu beranggapan bahwa Tuhan terlalu mengintervensi hak
manusia di Bumi. Sehingga
dengan demokrasi akan ada kebebasan yang selalu diinginkan oleh manusia tanpa
mempedulikan norma-norma Ilahiyah. Maka hari ini kita bisa menyaksikan
bagaimana HAM dan Sistem ekonomi kapitalis sebagai bagian paket dari demokrasi
bermain pada level memuaskan pihak-pihak tertentu. Dengan HAM kita akan
mendapati Mesin-mesin kondom bertaburan disejumlah daerah di Amerika, karena
pemerintah merasa kewalahan dengan penyebaran virus HIV/AIDS yang kian hari semakin
banyak memakan korban dinegara yang sistemnya (demokrasi) dianggab paling tepat
untuk memakmurkan rakyat, akhirnya dengan dalih HAM, pemerintah atau siapapun
tidak bisa menggangu-gugat hak seseorang. Termasuk melakukan hal-hal yang
diluar batas etika kemanusiaan. Ini hanya bagian kecil dari pada efek HAM. Dan
yang paling mengejutkan adalah mulai berpengaruhnya Embel-embel HAM di Negara
tercinta Indonesia. Baru-baru ini kasus tentang pencemaran nama baik atau
pembatasan berekspresi yang dilarang oleh sejumlah kalangan karena akan berefek
kepada Degradasi moral bangsa, namun lagi-lagi dibela dengan dali HAM.
Pada sisi lain demokrsi adalah
kecacatan yang tidak terampunkan. Selain melahirkan system perbudakan lewat
jalur kapitalisme, kekuatan politik juga tidak pernah akan memihak pada kebaikan
dan orang-orang yang akan melakukan perbaikan.
Pengaruh kapitalisme tentu akan
melahirkan rakyat miskin dan Negara miskin yang secara otomatis akan menjadi
budak Negara kaya. Walaupun dalam hal perpolitikan penentuan kebijakan Negara
juga akan dipengruhi oleh Negara maju dan orang-orang kaya. Istilah membeli
suara dari orang miskin dengan cara subsidi mungkin bisa menjadi contoh kecil
dari contoh-contoh lainnya. Dan kemenangan president tahun 2009 s/d 2014 nanti juga tidak lepas dari pengaruh luar
(asing) yang mempengaruhi kebijakan ekonomi. Pemberian pinjaman oleh IMF kepada
Indonesia yang mendongkrak pamor SBY untuk menang juga merupakan konspirasi
yang sangat jelas terlihat.
Indonesia
memang tejajah sejak dulu. Penjajahan ekonomi yang terparah mungkin melalui IMF
dan Word Bank. Pengamat kebijakan public, Ichsanuddin Noorsy dalam sebuah
rubrik wawancara dengan Majalah Sabili mejelaskan tentang dampak dari KMB
(konferensi meja bundar) 27 Desember 1949, dibelanda , Negara-negara barat
(inggris, AS, dan belanda) sudah memaksa para pemimpin Indonesia yang
berunding, Indonesia harus masuk IMF dan Word Bank sebagai dana utama
pembangunan (Sabili, “Semua Capres
Neoliberal” edisi 18 juni 2009). bahkan sebuah riset yang
dilakukan membuktikan Indonesia harus membayar hutang pada Belanda sebanyak 4,3
Uero. Ini sebenarnya merupakan hal yang sangat aneh, belanda yang menjajah dan
membuat kerusakan, tapi Indonesia yang harus bayar. Jadi, Negara-negara barat
sebenarnya ingin melakukan penjajahan terhadap Indonesia dengan perangkat IMF
dan Word Bank jauh hari sejak Indonesia sebelum merdeka.
Maka
jelaslah semua konspirasi yang berkedok Sistem demokrasi yang berpaketkan
kapitalisme. Jika dilihat lebih lanjut, kita tentunya akan lebih paham dengan
sejumlah konspirasi perbudakan yang terjadi di dunia.
Lebih
jelas, mari kita simak kata-kata dua orang berpengaruh ini : Melvin Sicter
dalam buku Ahmat Riznanto pernah mengatakan “Dengan
menguasai PBB, lembaga keuangan dan Moneter, para milyuner, komunis, dan
ilmuan, mereka bersatu padu untuk membuktikan cita-citanya dalam membangun
konglomerasi manusia yang Berjaya (satu dunia baru) melalui konspirasi yang
canggih”. Dan juga kata-kata
Prof.J.S. Malan “Cita-cita era reformasi
pembaharuan hanya dapat diwujudkan bila dogma-dogma Agama konserfatif sudah
dapat dilumpuhkan (Ahmad rizyanto “mereka menodai islam” hal,07).
Mungkin
kata-kata dua orang tersebut bisa menjadi ukuran kepahaman kita terhadap
penerapan system, pengaruh system dan pengadopsian system yang diterapkan oleh
barat kepada Negara-negara yang yang mempunyai orientasi yang berbeda.
Dari
segi kerugian demokras tidak tanggung-tangung, sehingga ada ungkapan yang
menyatakan “Mahalnya Demokrasi”. Belum lagi mahal dari segi Agama, dari segi
financial saja sudah cukup merugikan.
Di
Negara Indonesia saja, Berdasarkan data Mendagri (Kompas edisi 5 Maret 2009),
bahwa dalam pemilu 2009 terdapat 512.188 TPS. Itu berarti membutuhkan anggota
KPPS sebanyak 3.073.128 orang (kalau dihitung rata-rata 6 orang per TPS, karena
ada yang 7 orang). Dan memerlukan 1.024.376 anggota satuan perlindungan
masyarakat (Linmas), dan sekian ribu anggota PPS, PPK, KPUD, kabupaten dan
propinsi serta Panwas dll. Dari sini saja dapat dibayangkan berapa besar dan
sangat mahalnya pesta demokrasi itu. Apa lagi ditambah biaya kompanye. Belum
lagi bila terjadi pemilu putaran kedua (seperti Pilgub Jatim 2008 atau Pilpres
2004).
Ketua
KPU, Abdul Hafizd, menyebutkan bahwa total anggaran KPU untuk melaksanakan
pemilu2009 berjumlah 47,9 Triliun. Dana tersebut digunakan pada tahun 2008
untuk kebutuha KPU sebesar Rp.18,6 Triliun dan pada proses pemilu 2009
dinggarkan menghabiskan dana Rp.29,3 Triliun. Jauh membengkak dibandingkan
dengan Dana pemilu tahun 2004 yang hanya menghabiskan dana sebanyak 3,5 triliun
untuk semua pemilihan DPR, DPRD,DPRD II dan Pilpres. Dana tersebut belum lagi
yang dikeluarkan oleh partai dan individu calon anggota dewan atau kepala
daerah atau presiden. Satu calon anggota anggota DPR RI akan mengeluarkan dana
ratusan bahkan Milyaran rupiah. Hitung saja berapa dana yang terkumpul, dari
11.219 calon anggota DPR RI sebelum terpilih, belum lagi termasuk calon DPR
tingkat I dan II. Jika masing-masing orang rata-rata menghabiskan dana Rp.100
juta (tentu jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan pengeluaran dana calon
anggota DPR RI sebenarnya), maka
terkumpul dana sebesar 11.219 x Rp. 100 juta = 1.121.900.000.000,- (satu
triliun seratus dua puluh satu milyar Sembilan ratus juta rupiah).
Ini
sebenarnya masih sedikit, belum lagi pemilihan Kepala daerah, calon DPR dari
450 propinsi kabupaten / kota. Dana dari pendukung setiap calon atau calon
tidak didaftarkan. Keseluruhan dana yang dihabiskan (belum termasuk dana
pemilihan-pemilihan kepdes dan lain-lainya). semua jumlahnya sebesar
164.708.500.000.000,- (seratus enam puluh empat triliun tujuh ratus delapan
miliar lima ratus juta rupiah), . Jumlah yan sangat fantastis !!, (Kompas
edisi 5 Maret 2009).
Lalu
bagaimana dengan Aceh? Daerah yang sedang dihangat-hangatkan dengan Parlok?,
kita pasti bisa membayangkan berapa banyak dana yang akan terhambur-hamburkan
dalam setiap pesta demokrasi. Untuk pertama kali saja sudah muncul enam partai
yang bersaing.
Inilah
demokrasi yang diagung-agungkan. Bayangkan jika dan untuk pesta demokrasi itu
di alihkan untuk mengentaskan kemiskinan. Pasti kemiskinan di negeri akan
terminimalisir. Lalu apakah kita akan tetap percaya, bahwa demokrasi sebuah
system yang bagus untuk diterapkan??.
Wallahu`alam bissawab…
0 komentar:
Posting Komentar