Coretan di suatu pagi.
Suatu
pagi ketika sedang mengantarkan mobil teman kerumahnya, saya singgah disebuah
café biasa tempat mangkal untuk minum “bandrek’. Pagi itu, karena terlalu
lapar, maka yang pertama kupesan adalah nasi pagi. Rasanya kurang enak jika
hanya sibuk dengan makanan sedang didepan ada Koran yang tergelatak. Dikolom
Dunia, foto Ban ki Moon terpampang jelas. Raut wajahnya kini berbeda. Agak lesu
dan seperti banyak beban. Barangkali memang jadi dewan PBB memang capek. Karena
dulu saya berfikir kalau menjadi sekjen PBB itu biasa saja. Tidak ada
istimewanya. Lagipula jika dilihat dari hasil kerja juga juga tidak banyak ada
hasil. Lihat daja dalam kasus palestina, pembantaian di Gaza, penyerbuan ke
Irak, penghancuran Afghanistan dll, itu tidak pernah selesai dan PBB hanya
menjadi penonton. Wajah jika ada “aneuk dot” yang menyarankan supaya Ban Ki
Moon disuruh menonton sireal kisah cinta mandarin saja seperti Full hause, I
love to kill, Princess hours atau semacamnya. Lagipula mungkin itu jauh lebih
bermanfaat bagi seorang sekjen PBB dari pada menjadi penonton pembantaian
penduduk Bumi yang nanti dia sendiri menjadi merasa “terlaknat”.
Namun
pagi itu Ban ki Moon memang agak beda. Nampak lebih berkerut dahinya karena
sesuatu yang mengkhawatirkan. Disurat kabar itu, dibawah Foto sekjen PBB,
komentarnya adalah mengenai moment kehadiran bayi ke 7 milyar didunia. Banyak
Negara yang menyambut kelahiran bayi ini. Ban Ki Moon berkomentar tentang
betapa menyedihkan manusia sekarang ini karena jumlah yang banyak sedangkan
ketimpangan social terjadi dimana-mana. Yang kaya terus kaya, yang miskin terus
miskin. Banyaknya manusia di Bumi hanya menambah beban dan penderitaan itu
sendiri ungkapnnya kira-kira. Untuk sementara, komentar Ban untuk sementara
mengesankan buat saya yang sedang menikmati nasi pagi. (^_^)
Hujan
terus mengguyur diluar sana. Café tempat saya singgah memang sangat
menyenangkan. Banyak arah yang bisa dinikmati. Mungkin karena itulah saya
kemudian berfikir tentang kekhawatiran Ban ada hubungannya dengan pembasmian
manusia yang dilakoni oleh NATO terhadap negeri-negeri makmur dan kaya minyak
seperti Irak dan lainnya. Sedangkan arab Saudi memang tidak perlu diserang,
karena minyak arab Saudi tidak akan lari ketempat lain (^O^).
Dan
memang salah satu sekenario Ban yang mengeluh dimedia mungkin karena memang ada
harapan, pembasmian terhadap manusia mesti dilakukan untuk memperkeil jumlah
penduduk. Dan komentarnya dipoleskan dengan sedikit “rasa” khawatir seolah-olah
iya benar-benar khawatir dengan ketimpangan social yang terjadi.
Selesai
mengisi “pulau tengah” (julukan untuk perut menurut Guru SMA saya dulu ),
rasanya lebih nyaman. Dan saya merasa harus cepat berangkat, kuliah sudah
menuggu dari tadi (kuliah dinegeriku memang begini).
***
Keluar
kuliah, saya mencoba mengecek membuka situs-situs berita dalam negeri.
Salah
satu alamat yang saya ketik, JAKARTA, KOMPAS.com didalamnya
terdapat sebuah berita yang terus menerus bersambung hamper tanpa ujung.
Berikut cuplikannya.
“Polres
Metro Jakarta Pusat menggerebek tempat kos yang "disulap" menjadi
tempat menggandakan DVD Porno di Jalan Paseban Ray. Sebanyak 340 keping DVD
porno yang dibintangi artis Jepang beserta alat penggandanya pun disita polisi.
Dari penggerebekan itu, polisi mengamankanDede (32).
Hasil pemeriksaan sementara, Dede mengaku sudah menjalani bisnis ilegalnya ini selama satu tahun.
"Pelaku adalah ahli komputer. Dia pemain tunggal, yang kadang mengirim DVD ke daerah lewat salah satu kargo pengiriman barang,"
Hasil pemeriksaan sementara, Dede mengaku sudah menjalani bisnis ilegalnya ini selama satu tahun.
"Pelaku adalah ahli komputer. Dia pemain tunggal, yang kadang mengirim DVD ke daerah lewat salah satu kargo pengiriman barang,"
Luar
biasa, hanya hanya seorang pemain
tunggal bisa membuat DVD porno sebanyak itu dan mengirimkan DVD tersebut
kedaerah melalui kargo, sayangnya, polisi hanya menemukan 340 keping saja.
Sedang dia sudah melakoni pekerjaan ini selama satu tahun. Dan saya yakin,
banyak yang melakukan hal ini. Sebagai bukti, terlalu banyak tempat, bahkan
dimana-mana DVD ini bisa ditemukan. Seorang teman saya yang mengabdi disalah
satu LSM yang bergerak dibidang ini mengatakan, banyak sekali DVD-DVD semacam
itu yang tersebar. Sedangkan di Indonesia tidak ada perusahaan yang bergerak
untuk memproduksi DVD porno namun jumlahnya tidak terhitung banyaknya. Dan
bayangkan saja seandainya ada 100 orang seperti Dede yang melakukan kerja
serupa, berapa banyak yang sudah diproduksi?. Lalu bagaimna jika ada sampai 500
orang yang melakukuan hal seperti yang dilakukan Dede tadi?
Dikolom
yang sama, ada berita yang juga tidak kalah menarik, seperti bisnis Sek anak
dibawah umur (yang diatas umur saja tidak boleh apa lagi diwabah umur). Hanya
dengan uang 100 ribu, seorang anak yang masih 14 tahun rela menjadi santapan
para lelaki hidung belang. Katanya untuk menambah jajan. Atau ada alasan lain
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena keluarganya tidak mampu
memenuhinya. Tidak perlu heran jika ada pelanggan yang sudah berumur 60 tahun.
"Satu
kali melayani pelanggan dibayar Rp 300.000. Sebanyak Rp 100.000 untuk si
korban, Rp 100.000 untuk bayar kamar, dan Rp 100.000 untuk mucikarinya. Jadi,
korban juga hanya dapat Rp 100.000," (kompas).
Dikolom yang saling
bertautan lainnya , SURABAYA, KOMPAS.com
dijelaskan kasus Bisnis
prostitusi gigolo gay milik salah seorang anak negeri yang sudah
"meluluskan" ratusan gigolo. Entah sudah ada berapa ratus gigolo
didikan lelaki kemayu berusia 36 tahun yang tersebar di Surabaya dan sekitarnya.
Penghasilannya perbulan bisa meraup untung bersih sampai Rp 7,5 juta. Anak negeri Indonesia yang bernama Sugito
mengaku sudah tak bisa menghitung berapa gigolo gay yang pernah bekerja
dengannya. Pasalnya, lelaki ber-KTP di Sumber Rejo, Nganjuk, Jawa Timur, itu
sudah menelurkan gigolo gay profesional sejak tahun 2004. Woww..!! sejak tahun
2004..!! (itu hanya pengakuan dia, bisa jadi sudah dilakukan sejak dulu oleh
kakeknya).
Ini hanya sekelumit
saja. Dan saya akhirnya merasa malas, bosan dan sakit hati membaca berita
seperti ini. Namun perlu diketahui, bahwa hal yang seperti ini tidak saja
terjadi dikota-kota besar, namun bisa juga terjadi di daerah yang dinilai baik
seperti aceh dengan syariat islamnya.
Pernah ketika suatu
malam, kami mencoba berkeliling kota wisata Bandar islami (julukan untuk banda
aceh yang diberikan walikota banda aceh), betapa menyedihkan, kami menyaksikan
kota yang katanya islami disimpang-simpang jalan sekitar jam dini hari kebawah,
para tante-tante, gadis-gadis sedang melakukan transaksi dan ngobrol seru
dengan sejumlah yang kami yakini pelanggan. Belum lagi komunitas kaum Waria
(bukan wanita, bukan pria “jenis manusia jadi-jadian) yang ketika malam sudah
larut, mereka berkumpul seperti pasar malam.
Terus terang ini
baru pemandangan di aceh, banda aceh plus kota wisata islami. Tempat paling
dicintai orang aceh. Ditengah-tengahnya, mesjid Baiturrahman yang megah dan
bersejarah menjadi saksi bisu betapa bejatnya penghuni kota ini. Satu sama lain
tidak saling perhatian lagi.
Dan akhirnya, kita
semakin menyadari, betapa langkah pandakwah itu masih sangat jauh. Masih sangat
luas. Kita semua tentunya selalu berharap supaya amanat dakwah yang berada
dipundak harus senantiasa disadari. Sedangkan waktu terlalu sedikit bagi kita.
Jika tidak bersegera, maka kita akan digunting oleh waktu.
Akhirnya kita
kembali mengenang kata seorang tokoh besar abad modern, supaya senantiasa sadar
:
“sesungguhnya waktu
yang diberikan kepada kita sangat sedikit jika dibandingkan dengan kerja dakwah
yang begitu banyak”
Wallahu`alam
bissawab…
Kota
mahasiswa, selepas hujan dan Ban kendaraan bocor. :)
0 komentar:
Posting Komentar