Advertisements

Selasa, 15 November 2011

Coretan di suatu pagi.

Suatu pagi ketika sedang mengantarkan mobil teman kerumahnya, saya singgah disebuah café biasa tempat mangkal untuk minum “bandrek’. Pagi itu, karena terlalu lapar, maka yang pertama kupesan adalah nasi pagi. Rasanya kurang enak jika hanya sibuk dengan makanan sedang didepan ada Koran yang tergelatak. Dikolom Dunia, foto Ban ki Moon terpampang jelas. Raut wajahnya kini berbeda. Agak lesu dan seperti banyak beban. Barangkali memang jadi dewan PBB memang capek. Karena dulu saya berfikir kalau menjadi sekjen PBB itu biasa saja. Tidak ada istimewanya. Lagipula jika dilihat dari hasil kerja juga juga tidak banyak ada hasil. Lihat daja dalam kasus palestina, pembantaian di Gaza, penyerbuan ke Irak, penghancuran Afghanistan dll, itu tidak pernah selesai dan PBB hanya menjadi penonton. Wajah jika ada “aneuk dot” yang menyarankan supaya Ban Ki Moon disuruh menonton sireal kisah cinta mandarin saja seperti Full hause, I love to kill, Princess hours atau semacamnya. Lagipula mungkin itu jauh lebih bermanfaat bagi seorang sekjen PBB dari pada menjadi penonton pembantaian penduduk Bumi yang nanti dia sendiri menjadi merasa “terlaknat”.

Namun pagi itu Ban ki Moon memang agak beda. Nampak lebih berkerut dahinya karena sesuatu yang mengkhawatirkan. Disurat kabar itu, dibawah Foto sekjen PBB, komentarnya adalah mengenai moment kehadiran bayi ke 7 milyar didunia. Banyak Negara yang menyambut kelahiran bayi ini. Ban Ki Moon berkomentar tentang betapa menyedihkan manusia sekarang ini karena jumlah yang banyak sedangkan ketimpangan social terjadi dimana-mana. Yang kaya terus kaya, yang miskin terus miskin. Banyaknya manusia di Bumi hanya menambah beban dan penderitaan itu sendiri ungkapnnya kira-kira. Untuk sementara, komentar Ban untuk sementara mengesankan buat saya yang sedang menikmati nasi pagi. (^_^)
Hujan terus mengguyur diluar sana. Café tempat saya singgah memang sangat menyenangkan. Banyak arah yang bisa dinikmati. Mungkin karena itulah saya kemudian berfikir tentang kekhawatiran Ban ada hubungannya dengan pembasmian manusia yang dilakoni oleh NATO terhadap negeri-negeri makmur dan kaya minyak seperti Irak dan lainnya. Sedangkan arab Saudi memang tidak perlu diserang, karena minyak arab Saudi tidak akan lari ketempat lain (^O^).
Dan memang salah satu sekenario Ban yang mengeluh dimedia mungkin karena memang ada harapan, pembasmian terhadap manusia mesti dilakukan untuk memperkeil jumlah penduduk. Dan komentarnya dipoleskan dengan sedikit “rasa” khawatir seolah-olah iya benar-benar khawatir dengan ketimpangan social yang terjadi.
Selesai mengisi “pulau tengah” (julukan untuk perut menurut Guru SMA saya dulu ), rasanya lebih nyaman. Dan saya merasa harus cepat berangkat, kuliah sudah menuggu dari tadi (kuliah dinegeriku memang begini).
***
Keluar kuliah, saya mencoba mengecek membuka situs-situs berita dalam negeri.
Salah satu alamat yang saya ketik, JAKARTA, KOMPAS.com didalamnya terdapat sebuah berita yang terus menerus bersambung hamper tanpa ujung. Berikut cuplikannya.
“Polres Metro Jakarta Pusat menggerebek tempat kos yang "disulap" menjadi tempat menggandakan DVD Porno di Jalan Paseban Ray. Sebanyak 340 keping DVD porno yang dibintangi artis Jepang beserta alat penggandanya pun disita polisi. Dari penggerebekan itu, polisi mengamankanDede (32).

Hasil pemeriksaan sementara, Dede mengaku sudah menjalani bisnis ilegalnya ini selama satu tahun.

"Pelaku adalah ahli komputer. Dia pemain tunggal, yang kadang mengirim DVD ke daerah lewat salah satu kargo pengiriman barang,"
Luar biasa, hanya hanya seorang  pemain tunggal bisa membuat DVD porno sebanyak itu dan mengirimkan DVD tersebut kedaerah melalui kargo, sayangnya, polisi hanya menemukan 340 keping saja. Sedang dia sudah melakoni pekerjaan ini selama satu tahun. Dan saya yakin, banyak yang melakukan hal ini. Sebagai bukti, terlalu banyak tempat, bahkan dimana-mana DVD ini bisa ditemukan. Seorang teman saya yang mengabdi disalah satu LSM yang bergerak dibidang ini mengatakan, banyak sekali DVD-DVD semacam itu yang tersebar. Sedangkan di Indonesia tidak ada perusahaan yang bergerak untuk memproduksi DVD porno namun jumlahnya tidak terhitung banyaknya. Dan bayangkan saja seandainya ada 100 orang seperti Dede yang melakukan kerja serupa, berapa banyak yang sudah diproduksi?. Lalu bagaimna jika ada sampai 500 orang yang melakukuan hal seperti yang dilakukan Dede tadi?
Dikolom yang sama, ada berita yang juga tidak kalah menarik, seperti bisnis Sek anak dibawah umur (yang diatas umur saja tidak boleh apa lagi diwabah umur). Hanya dengan uang 100 ribu, seorang anak yang masih 14 tahun rela menjadi santapan para lelaki hidung belang. Katanya untuk menambah jajan. Atau ada alasan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena keluarganya tidak mampu memenuhinya. Tidak perlu heran jika ada pelanggan yang sudah berumur 60 tahun.
"Satu kali melayani pelanggan dibayar Rp 300.000. Sebanyak Rp 100.000 untuk si korban, Rp 100.000 untuk bayar kamar, dan Rp 100.000 untuk mucikarinya. Jadi, korban juga hanya dapat Rp 100.000," (kompas).
Dikolom yang saling bertautan lainnya , SURABAYA, KOMPAS.com  dijelaskan kasus Bisnis prostitusi gigolo gay milik salah seorang anak negeri yang sudah "meluluskan" ratusan gigolo. Entah sudah ada berapa ratus gigolo didikan lelaki kemayu berusia 36 tahun yang tersebar di Surabaya dan sekitarnya. Penghasilannya perbulan bisa meraup untung bersih sampai Rp 7,5 juta.  Anak negeri Indonesia yang bernama Sugito mengaku sudah tak bisa menghitung berapa gigolo gay yang pernah bekerja dengannya. Pasalnya, lelaki ber-KTP di Sumber Rejo, Nganjuk, Jawa Timur, itu sudah menelurkan gigolo gay profesional sejak tahun 2004. Woww..!! sejak tahun 2004..!! (itu hanya pengakuan dia, bisa jadi sudah dilakukan sejak dulu oleh kakeknya).
Ini hanya sekelumit saja. Dan saya akhirnya merasa malas, bosan dan sakit hati membaca berita seperti ini. Namun perlu diketahui, bahwa hal yang seperti ini tidak saja terjadi dikota-kota besar, namun bisa juga terjadi di daerah yang dinilai baik seperti aceh dengan syariat islamnya.
Pernah ketika suatu malam, kami mencoba berkeliling kota wisata Bandar islami (julukan untuk banda aceh yang diberikan walikota banda aceh), betapa menyedihkan, kami menyaksikan kota yang katanya islami disimpang-simpang jalan sekitar jam dini hari kebawah, para tante-tante, gadis-gadis sedang melakukan transaksi dan ngobrol seru dengan sejumlah yang kami yakini pelanggan. Belum lagi komunitas kaum Waria (bukan wanita, bukan pria “jenis manusia jadi-jadian) yang ketika malam sudah larut, mereka berkumpul seperti pasar malam.
Terus terang ini baru pemandangan di aceh, banda aceh plus kota wisata islami. Tempat paling dicintai orang aceh. Ditengah-tengahnya, mesjid Baiturrahman yang megah dan bersejarah menjadi saksi bisu betapa bejatnya penghuni kota ini. Satu sama lain tidak saling perhatian lagi.
Dan akhirnya, kita semakin menyadari, betapa langkah pandakwah itu masih sangat jauh. Masih sangat luas. Kita semua tentunya selalu berharap supaya amanat dakwah yang berada dipundak harus senantiasa disadari. Sedangkan waktu terlalu sedikit bagi kita. Jika tidak bersegera, maka kita akan digunting oleh waktu.
Akhirnya kita kembali mengenang kata seorang tokoh besar abad modern, supaya senantiasa sadar :
“sesungguhnya waktu yang diberikan kepada kita sangat sedikit jika dibandingkan dengan kerja dakwah yang begitu banyak”
Wallahu`alam bissawab…

Kota mahasiswa, selepas hujan dan Ban kendaraan bocor. :)




0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Catatan Pinggir Mahasiswa Kesepian All Right Reserved
Designed by Harman Singh Hira @ Open w3. Published..Blogger Templates