Advertisements

Selasa, 22 November 2011

Belati untuk bangsa yang sedang dimangsa

Orang-orang miskin di jalan,
Yang tinggal di dalam selokan,
Yang kalah di dalam pergulatan,
Yang diledek oleh impian,
Janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
Mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin.
Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin.
Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan. 
   W.S rendra melukis bait-bait ini. Saya tidak tau kapan. Karena saya tidak mecari lagi kapan ia melukis semua ini. Cerita seperti ini bukan barang baru. Hanya anak negeri kadang lupa mengambil pena dan langsung memegang Toa dengan tangan tergepal. Secara tidak langsung bait-bait terlontar dengan gagahnya. Walaupun kadang pentungan menjadi hadiah dibadan yang terbungkus almamater.
Tahun-tahun pasca reformasi kadang bukanlah tahun yang berarti bagi rakyat Indonesia yang terus tercekik hari demi hari. Karena kran kebebasan yang “keblablasan” juga tidak efektif untuk menyembuhkan derita penyakit yang sudah sangat akut. Kita semua bisa memmbayangkan, tahun-tahun pasca reformasi.  Berapa jumlah penduduk miskin dan hutang luar negeri? Dan Penjelmaan menjadi negeri mafia benar-benar terjadi. Jika dimexsiko Kartel obat bius di Indonesia berlaku kartel penipu dan obat stimulus KKN.
   Sebenarnya kerusakan ini bermula ketika ego manusia Indonesia untuk “bebas se-blablas-blablasnya. Ada kepentingan dalam kebebasan dan Ada keuntungan setelah keblablasan. Dan ini hanya untuk orang yang menciptakan kebebasan tanpa batas itu sendiri. Sedang yang terciduk dengan kebebasan ini adalah masyarakat biasa, terutama kalangan masyarakat kelas rendah. Kekusaan politik diatas kekuatan hokum menjelma dan menimbun semua kuasa dinegeri ini. Ketika menunggu hokum dan mengharap keadilan, hokum dinegeri ini malah mengejek dan meludah kehormatan rakyat kecil. Seorang nenek mencuri beberapa buah kayu yang harganya paling tinggi 3000 rupiah harus mendekam dalam jeruji besi selama 180 hari. Sedangkan koruptor pajak keringat rakyat dan pencuri uang Negara bebas dan bertamasya kemana mereka mau. Mereka para penjabhat negeri ini barangkali tidak merenungi perasaan rakyat kecil Indonesia..
Bila kamu remehkan mereka,
Di jalan  kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
Dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka. 
Orang-orang miskin di jalan
Masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
Menyuapi putra-putramu.


Tangan-tangan kotor dari jalanan
Meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan. 
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
Yang mencegat ideologimu.


Gigi mereka yang kuning
Akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
Akan hinggap di gorden presidenan
Dan buku program gedung kesenian. 
   Penegak hokum dan pejabat negeri. Semua mereka ingin terhormat dan kita hormati. Namun kapan mereka menghormati kita? Dengan senyum atau janji peduli?. Dengan komentar dan debat panjang di kantor Dewan? Atau saat “berkelahi” mempertahankan kemauan fraksi sendiri??. Sedangkan penegak hokum hanya tunduk pada penguasa. Fatwa ulama dan kata bijak diambil hanya saat kampanye, setelah itu kata itu disimpan rapat dan dibuka kembali diperiode mandatang. 
   Bukan hanya satu cerita pilu negeri ini. Sebuah kisah menyedihkan menimpa seorang anak negeri ini. Namanya heryanto, dinggil yanto, umur 13 tahun. Gatra edisi 29 agustus mengangkat berita pilu ini. Ceritanya, yanto melakukan aksi gantung diri dengan seutas kabel yang dililitkan dilehernya. yanto memang sempat diselamatkan setelah diketahui orang dan dibawa ke RS.hasan sadikin Bandung. Namun gara-gara belitan kabel selama lebih kurang sepuluh menit, sel-sel otaknya mengalami kserusakan. Dokter memperkirakan yanto bias sembuh setelah sadar, namun kemungkinan besar ia akan mengalami kerusakan ingatan, bisu atau lumpuh.
   Tragisnya yanto berusaha bunuh diri hanya gara-gara uang Rp.2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah). Ia malu pada guru dan teman-temannya karena tidak dapat membayar iuaran kegiatan ekstra kurikuler disekolahnya. Orang tuanya yang miskin tidak mampu memenuhi kebutuhan 2.500 rupiah tersebut.
   Ketika itu ibunya baru saja meminjam uang Rp.2000,00 untuk membeli minyak tanah. Maka tanpa diduga yanto dan malu dan kecewa, mencoba membunuh diri dengan cara menggantung diri. 
   Beginilah secuil kisah pilu dinegri ini. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi prioritas, namun tidak dilakukan yang berarti negeri ini. Lalu mana konstitusi yang harus kita ingat? Pancasilakah yang harus kita hafal atau UUD 1945? Atau yang perlu kita hafal adalah nama-nama tokoh negeri ini?
   Sungguh tidak jarang saya mendengar ketika pejabat atau birokrat berpidato dalam acara-acara tertentu, mereka paling sering mengeluarkan kata “Masyarakat kita masih bodoh dan primitive memahami persoalan bangsa” atau “masyarakat kita tidak bisa menjalankan program-program yang sudah dibuat oleh pemerintah”. 
,…Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
Agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa…,
   Selamat kepada para demonstran. Para mahasisawa dan rakyat yang masih setia menanti hari-hari “kebaikan” untuk negeri ini. Karena terlalu banyak yang sudah pesimis dengan kebangkitan dan kemajuan negeri ini. Namun kita juga jangan menyalahkan sikap psimistis mereka. Karena diantara kita juga kadang dihinggapi perasaan yang lebih besar lagi. Yaitu benci kepada bangsa yang seperti ini !.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
Bagai udara panas yang selalu ada,
Bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
Tertuju ke dada kita,
Atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
Orang-orang miskin
Juga berasal dari kemah Ibrahim 


09 Juli 2011
Cot keu eng (nama sebuah pemukiman di Aceh besar).
Ba`da magrib diujung desa.


0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Catatan Pinggir Mahasiswa Kesepian All Right Reserved
Designed by Harman Singh Hira @ Open w3. Published..Blogger Templates