Belati untuk bangsa yang sedang dimangsa
Orang-orang miskin di jalan,
Yang tinggal di dalam selokan,
Yang kalah di dalam pergulatan,
Yang diledek oleh impian,
Janganlah mereka ditinggalkan.
Yang kalah di dalam pergulatan,
Yang diledek oleh impian,
Janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
Mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin.
Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin.
Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
Mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin.
Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin.
Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
W.S rendra melukis
bait-bait ini. Saya tidak tau kapan. Karena saya tidak mecari lagi kapan ia
melukis semua ini. Cerita seperti ini bukan barang baru. Hanya anak negeri
kadang lupa mengambil pena dan langsung memegang Toa dengan tangan tergepal.
Secara tidak langsung bait-bait terlontar dengan gagahnya. Walaupun kadang
pentungan menjadi hadiah dibadan yang terbungkus almamater.
Tahun-tahun pasca
reformasi kadang bukanlah tahun yang berarti bagi rakyat Indonesia yang terus
tercekik hari demi hari. Karena kran kebebasan yang “keblablasan” juga tidak
efektif untuk menyembuhkan derita penyakit yang sudah sangat akut. Kita semua
bisa memmbayangkan, tahun-tahun pasca reformasi. Berapa jumlah penduduk miskin dan hutang luar
negeri? Dan Penjelmaan menjadi negeri mafia benar-benar terjadi. Jika dimexsiko
Kartel obat bius di Indonesia berlaku kartel penipu dan obat stimulus KKN.
Sebenarnya kerusakan
ini bermula ketika ego manusia Indonesia untuk “bebas se-blablas-blablasnya.
Ada kepentingan dalam kebebasan dan Ada keuntungan setelah keblablasan. Dan ini
hanya untuk orang yang menciptakan kebebasan tanpa batas itu sendiri. Sedang
yang terciduk dengan kebebasan ini adalah masyarakat biasa, terutama kalangan
masyarakat kelas rendah. Kekusaan politik diatas kekuatan hokum menjelma dan
menimbun semua kuasa dinegeri ini. Ketika menunggu hokum dan mengharap
keadilan, hokum dinegeri ini malah mengejek dan meludah kehormatan rakyat
kecil. Seorang nenek mencuri beberapa buah kayu yang harganya paling tinggi
3000 rupiah harus mendekam dalam jeruji besi selama 180 hari. Sedangkan koruptor
pajak keringat rakyat dan pencuri uang Negara bebas dan bertamasya kemana
mereka mau. Mereka para penjabhat negeri ini barangkali tidak merenungi
perasaan rakyat kecil Indonesia..
Bila kamu remehkan mereka,
Di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
Dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
Dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Orang-orang miskin di jalan
Masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
Menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
Meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
Menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
Meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik
menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
Yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
Akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
Akan hinggap di gorden presidenan
Dan buku program gedung kesenian.
Mereka akan menjadi pertanyaan
Yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
Akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
Akan hinggap di gorden presidenan
Dan buku program gedung kesenian.
Penegak hokum dan
pejabat negeri. Semua mereka ingin terhormat dan kita hormati. Namun kapan
mereka menghormati kita? Dengan senyum atau janji peduli?. Dengan komentar dan
debat panjang di kantor Dewan? Atau saat “berkelahi” mempertahankan kemauan
fraksi sendiri??. Sedangkan penegak hokum hanya tunduk pada penguasa. Fatwa
ulama dan kata bijak diambil hanya saat kampanye, setelah itu kata itu disimpan
rapat dan dibuka kembali diperiode mandatang.
Bukan hanya satu
cerita pilu negeri ini. Sebuah kisah menyedihkan menimpa seorang anak negeri
ini. Namanya heryanto, dinggil yanto, umur 13 tahun. Gatra edisi 29 agustus
mengangkat berita pilu ini. Ceritanya, yanto melakukan aksi gantung diri dengan
seutas kabel yang dililitkan dilehernya. yanto memang sempat diselamatkan
setelah diketahui orang dan dibawa ke RS.hasan sadikin Bandung. Namun gara-gara
belitan kabel selama lebih kurang sepuluh menit, sel-sel otaknya mengalami
kserusakan. Dokter memperkirakan yanto bias sembuh setelah sadar, namun
kemungkinan besar ia akan mengalami kerusakan ingatan, bisu atau lumpuh.
Tragisnya yanto
berusaha bunuh diri hanya gara-gara uang Rp.2.500,00 (dua ribu lima ratus
rupiah). Ia malu pada guru dan teman-temannya karena tidak dapat membayar
iuaran kegiatan ekstra kurikuler disekolahnya. Orang tuanya yang miskin tidak
mampu memenuhi kebutuhan 2.500 rupiah tersebut.
Ketika itu ibunya
baru saja meminjam uang Rp.2000,00 untuk membeli minyak tanah. Maka tanpa
diduga yanto dan malu dan kecewa, mencoba membunuh diri dengan cara menggantung
diri.
Beginilah secuil
kisah pilu dinegri ini. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi prioritas,
namun tidak dilakukan yang berarti negeri ini. Lalu mana konstitusi yang harus
kita ingat? Pancasilakah yang harus kita hafal atau UUD 1945? Atau yang perlu
kita hafal adalah nama-nama tokoh negeri ini?
Sungguh tidak jarang
saya mendengar ketika pejabat atau birokrat berpidato dalam acara-acara
tertentu, mereka paling sering mengeluarkan kata “Masyarakat kita masih bodoh
dan primitive memahami persoalan bangsa” atau “masyarakat kita tidak bisa
menjalankan program-program yang sudah dibuat oleh pemerintah”.
,…Lambang negara ini mestinya
trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
Agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa…,
Dan perlu diusulkan
Agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa…,
Selamat
kepada para demonstran. Para mahasisawa dan rakyat yang masih setia menanti
hari-hari “kebaikan” untuk negeri ini. Karena terlalu banyak yang sudah pesimis
dengan kebangkitan dan kemajuan negeri ini. Namun kita juga jangan menyalahkan
sikap psimistis mereka. Karena diantara kita juga kadang dihinggapi perasaan
yang lebih besar lagi. Yaitu benci kepada bangsa yang seperti ini !.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang
sejarah,
Bagai udara panas yang selalu ada,
Bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
Tertuju ke dada kita,
Atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
Orang-orang miskin
Juga berasal dari kemah Ibrahim
Bagai udara panas yang selalu ada,
Bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
Tertuju ke dada kita,
Atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
Orang-orang miskin
Juga berasal dari kemah Ibrahim
09
Juli 2011
Cot
keu eng (nama sebuah pemukiman di
Aceh besar).
Ba`da
magrib diujung desa.
0 komentar:
Posting Komentar