Advertisements

Sabtu, 02 April 2011

dilema lembaga dakwah kampus dan kadernya

Saat pertama sekali memasuki Kampus mungkin hampir semua Mahasiswa merasakan hal yang sama, yaitu peringatan supaya berhati-hati tehadap lembaga Kerohanian yang ada dikampus. kecuali Mahasiswa yang tidak peduli dengan keadaan Kampus yang telah ia masuki. Seorang teman saya pernah menuturkan pada saya setelah kira-kira satu Semester berlalu.
“pertama saya masuk kampus saya melihat ada lembaga yang dijauhi oleh mahasiswa, lalu saya bertanya pada abang saya yang kebetulan satu Kampus dengan saya. Ada apa dengan Lembaga itu. Kenapa semua orang menjauhinya? Bukankah lembaga itu lembaga dakwah?”.
Tanpa banyak berkomentar sang Abang langsung berkata.
”yang penting kamu jangan masuk kelembaga itu. Jika masuk ke Lembaga itu, kamu akan saya potong leher” ujar Abangnya geram.
Tidak banyak jawaban. Singkat. Bukan dijelaskan tapi langsung dilarang. Sang adiknya hanya munggut-munggut. Tidak berani menanyakan lagi. Apa lagi bergabung atau mencoba mendekati. Luar biasa.
Sampai saat ini sang teman tidak tau banyak tentang lebaga Dakwah Kampus. Yang dia tau lembaga ini adalah lembaga Islam munafik. Menggunakan label islam tapi mereka adalah orang disusupi pemikiran sesat. Menurut mereka sangatlah pantas jika dikatakan munafik. Astaghfirullah…
Hari-hari terus berlalu. Ada bebarapa teman yang sepertinya tidak terlalu akrab dengan saya. Walaupun saya sudah katakan kalau saya tidak membawa lembaga kemana-mana. Namun batasan pergaulan jelas terlihat. Sungguh betapa fenomenalnya lembaga dakwah.
Sebenarnya pada saat tuduhan demi tuduhan yang dicoba arahkan kelembaga dakwah kampus hampir semuaya nyaris tampa bukti. Tapi mereka tetap tidak mau diam. Mereka bahkan menvari-cari kesalahan-kesalahan yang lain. Sampai kesalahan individu dikaitkan dengan kesalahan lembaga.
Pertanyaanya sekrang apakah hal ini juga terjadi ditempat lain selain kampus?. Jawabannya tentu saja iya. Belum kita tinjau lebih jauh, ada seuah pengalam yang didapat teman saya yang kemudian diceritakan pada saya.
“suatu hari saya mengajak orang-orang dikampung untuk mengikuti kajian yang dibuat dimesjid. Salah seorang menanyakan, siapa ustazd yang mengisi kajiannya?”. Lalu teman saya menjawab “ustazdnya fulan”. Dengan tanpa menggu lagi, orang yang bertanya tadi angsung berceloteh “apakah ustazd itu manusia? Kami pikir bukan manusia”. Sambil diiringi dengan tawa lebar orang lainnya. Tanpa menunggu sang teman langsung pergi.
Jika saya mendengar cerita ini jelas sekali bahwa sang penanya bukan bermaksud menanyakan dengan sungguh-sungguh. Tapi hanya ingin mengundang yang lainnya untuk tertawa. Apalagi teman saya yang mengajak baru kelas tiga sekolah menengah atas. Mungkin mereka berfikir anak ingusan coba-coba ajak orang dewasa. Sebenarnya yang diajakpun bukan orang yang sudah tua. Manusia semacam ini, jika dibawapun manusia dari langit untuk berceramah dia juga belum tentu mau mendengarnya. Keangkuhan dan kesombongan jelas terlihat.
Saya jadi teringat dengan sebuah kisah yang ditulis oleh ibnul jauzi dan kitab AL-WAFA nya.
Disaat waktu shalat Zhuhur tiba pada hari pembebasan kota Makkah (fathu makkah), Rasulullah SAW.menyuruh bilal untuk mengumandangkan adzan diatas Ka`bah. Sementara itu, kaum Quraisy menyingkir keatas gunung sehingga tidak ada satupun dari mereka yang tampak.
Ketika bilal mengumandangkan kalimat “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah (sesungguhnya aku bersaksi bahwa muhammad adalah utusan Allah)” beragam sekali komentar yang dilontarkan kaum Quraisy saat itu.
Salah satunya adalah komentar Al-Hakam bin Abul `Ash.
“sungguh, demi latta, ini pemandangan yang sangat luar biasa. Seorang hamba sahaya budak Bani Jumah berteriak seperti keledai diatas Ka`bah” ujarnya.
Cerita ini memang tidak sama persis. Tetapi coba kita lihat gaya bicaranya antara orang yang bertanya dengan Al-Hakam bin Abul `Ash musuh Allah itu. Hampir tidak jauh berbeda. Seandainya orang itu hidup dimasa jahiliyah dulu tentu saja ia merupakan teman akrab dengan para penentang dakwah Rasulullah.
Ini membuktikan akan banyak tantangan untuk para aktifis dakwah bukan hanya dikampus saja. Tapi juga dimasyarakat nanti.
Lalu bagaimana dengan kampus. Tentu saja kampus lebih berat jika dibandingkan dengan luarnya. Masalahnya ini berhadapan dengan para calon cendekiawan. Manusia yang lebih dibidang pengetahuan dari pada yang lain. Tentunya tantangan pun beragam.
Maka untuk menghadapi tantangan tersebut para pendakwah harus selalu menyiapkan diri. Saya senang membaca buku Karya Mas Salim A. Fillah. Walaupun ada isinya yang tidak mungkin semua kita sepakat. (maaf Mas, saya bukan tidak setuju dengan masalah pernikahan ya. Kalau itu saya setuju banget! Hehe….). saksikan aku seorang muslim. Buku yang sering dipegang oleh aktifis dakwah (baik yang masih bujang atau yang sudah menang). Beliau menjelaskan tentang pentingnya bangga menjadi seorang muslim. Itu penting dan sangat penting. Mindernya menjadi muslim itu musibah. Tapi hari ini ada yang seprti itu. Bahkan ada aktifis dakwah yang seperti itu (tentunya belum militan kali ya).
Didaerah aceh yang dikenal dengan syariat islam belum tentu tidak ada orang minder dengan kemuslimannya. Jika teman saya bilang “malu kayak ustazd-ustazd. Cewek-cewek pada hormat semua. Jika dirayu mereka khaburrr…”.
Oh. Jadi itu motifnya malu dengan kemusliman?. Jelas-jelas dari niatnya sudah tidak jelas. Maka jadinya ya seperti itu. Minder. Maka melang-langlah dirimu seperti seperti bunglon yang tidak konsisten dengan warna sendiri.
Tapi ssebenarnya bukan disitu letak kesalahan yang sangant fatal. Tatapi di peng indentikan muslimnya yang rancu. Apakah kita harus memakai baju koko dengan tasbih ditangan dan sekali-kali berjalan disamping orang dengan batuk kecil supaya tampak berwibawa?. Mungkin masalah ini ada ustazd-ustazd lain yang lebih bagus menarik pelatuknya. Saya tidak mau membahas sampai kesitu. Itu tugas individu untuk bertanya.
Ada sebuah kisah dari pengalaman sendiri yang tentu saja sangat berguna bagi anda semua. Kita tau banyak orang-orang besar didunia terpesona denga ajaran orang muslim dan kemudian memilih menjadi muslim. Dan banyak pula orang-orang yang pada awalnya hancur-hancuran dan akhirnya kemudian menjadi hebat karena memeluk islam. Dinusantara hampir semua orang kenal dengan Gajah Mada yang indentik dengan kerajaan maja pahit. Lebih-lebih para penikmat sejrah. Berkat Gajah Mada lah majapahit menjadi kerajaan super. Demikian sangat berpengaruhnya gajah Mada pada kerajaan majapahit sehingga saat ia meninggalkan Majapahit dan tidak tau entah pergi kemana. Maka Majapahit pun mengalami kemunduran.
Lalu apa hubungan dengan cerita saya?. Silahkan anda dengar cerita saya berikut ini;
“Setelah seminggu di Jakarta saya bersiap-siap untuk terbang ke daerah Nusa Tegagara Barat. Daerah yang kata orang adalah kakaknya bali. “jika anda sudah ke NTB berarti anda sudah ke Bali. Tapi jika sudah ke Bali anda belum tentu ke NTB”. Begitulah kata salah seorang teman yang bertemu di jakarta. Sampai disana saya menginap disalah satu Wisma dikota Mataram untuk sementara. Setelah beberapa hari saya diajari cara berinteraksi dengan penduduk disana. Saya kemudian pergi ke daerah kabupaten lombok tengah. Tempat suku Sasak. Tradisi yang sudah mendarah daging tidak pernah mereka lupakan. Mereka menjunjung tinggi kata petuah dari orang yang lebih tua. Walaupun budaya Hindunya masih sangat nampak. Maklum dulu Anak Agung Bali pernah menurunkan Armadanya untuk menyerang Kerajaan-kerajaan Kecil yang berada diseluruh wilayah Lombok.
Untuk pagi pertama saya dibawa untuk berkenalan dengan para tetua kampung. Dan disinilah kisah itu bermula. Seorang bapak yang sangat dihormati mengisahkan pada saya tentang sejarah lombok. Dan sampailah kepada kisah sang pahlawan majapahit, Gajah Mada. Saya mencoba memastikan dengan bertanya kepada bapak itu, apakah yang beliau maksud adalah Gajah Mada kerajaan majapahit itu. “benar” kata beliau. Beliau mengisahkan tentang hilang gajah mada dari majapahit. Dan rupanya Gajah Mada pergi ke Lombok dan menetap disana sampai akhir hayatnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi beliua mengatkan bahwa Gajah Mada pada akhirnya masuk islam dan menjadi seorang muslim!. Saya kemudian bertanya lagi untuk memastikan dan sekaligus menghilangkan penasaran saya. Dan beliau mau menunjukkan bukti kepada saya kalau Gajah Mada itu benar-benar muslim.
Ya. Seperti inilah kisahnya. Sekarang terbukalah tabir bagi kita. Bahwa hampir semua orang-orang besar dinegeri ini adalah muslim. Sekarang bertanyalah kita pada diri sendiri. Apakah saya sudah bangga.
Sepertinya saya telah mengulang pesan Salim A. Fillah. Tapi saya rasa tidak mengapa, karena lebih banyak di ulang lebih bagus. Lebih kerasa.
Sekarang marilah sama-sama kita kembali ke kampus. Membahas yang belum terbahas. Dan semoga saja bahsan kita ini bermanfaat bagi dakwah. Semoga!...


kota mahasiswa, 8 sep, 2008
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Catatan Pinggir Mahasiswa Kesepian All Right Reserved
Designed by Harman Singh Hira @ Open w3. Published..Blogger Templates